Tampilkan postingan dengan label kurang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Januari 2014
Hasrat Membara Namun Tenaga Kurang Ini Solusinya
Hasrat Membara Namun Tenaga Kurang, Ini Solusinya Pada saat usia 20-an tahun, mencapai ereksi adalah soal mudah bagi seorang pria. Namun, saat usianya merayap mendekati 40, hasrat seksual dan kemampuan seksual takkan sebaik sebelumnya.
![[imagetag]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjxBsPjRs-x5y7MIvoWsHMFa1UcJhXAcpbA-jE-Pf5-SgDXzt9QAgZwHK45JqNor0hWA8jLKKMlCSwNyhibfMenYKg2LNYKK3DlkWqwUPe8rEHJTZ0c_TvGQly5qrYbVPMcISko1XMcKqO/s400/Hasrat+Membara%252C+Tenaga+Kurang%252C+Ini+Solusinya.jpg)
Tak heran bila banyak kaum Adam menjadi cemas dan tertekan saat memasuki usia ini karena mereka berpeluang mengalami penurunan kemampuan seksual. Bahkan, mereka terancam divonis mengidap disfungsi ereksi atau impotensi oleh dokter.
Para dokter, yang dulu pernah memandang impotensi hampir secara eksklusif sebagai masalah psikologis, sekarang percaya bahwa sekurangnya tujuh di antara sepuluh kasus impotensi memiliki penyebab fisik, termasuk diabetes, gangguan kelenjar gondok, aterosklerosis, atau cedera pada penis.
Pengobatan, konsumsi alkohol, merokok, dan faktor-faktor psikologis seperti depresi, stres, dan kecemasan dalam pekerjaan juga dapat memperbesar risiko terjadinya disfungsi ereksi.
Yang menjadi inti dalam hal ini adalah bahwa apa pun yang menghentikan aliran darah ke penis Anda akan memperkecil peluang Anda untuk mendapatkan ereksi.
Akan tetapi, jika Anda merawat diri dengan baik, Anda dapat tetap siap siaga, tetap bergairah, dan tetap mampu berhubungan seks hingga usia lanjut. Menurut teori, tak ada alasan bahwa kemampuan seksual Anda akan berubah karena usia Anda bertambah. Ada satu hal yang sama di antara mereka: mereka merawat diri lebih baik daripada kebanyakan pria lain.
Jadi, rawatlah organ seksual Anda sebaik-baiknya dan ikutilah beberapa perubahan gaya hidup untuk menjaga agar kehidupan seksual Anda dapat terus berlangsung dengan baik.
Sekarang merokok telah dipandang sebagai faktor utama dalam masalah ereksi, dan aksi pertamanya dimulai ketika usia Anda menginjak 40 tahun. Maka, jika Anda merokok, berhentilah sekarang juga!
Dalam studi itu, yang diselenggarakan di University of California, San Diego, 78 pria sehat tetapi tidak aktif mulai berlatih aerobik tiga hingga lima hari dalam seminggu, masing-masing selama satu jam. Selama penelitian itu, tiap orang menulis buku harian tentang kegiatan seksual mereka.
Hasilnya menunjukkan bahwa kehidupan seks para pelaku aerobik itu sangat meningkat. Sementara itu, kehidupan seks mereka yang cuma berjalan santai hanya berubah sedikit.
Tidak peduli jenis aerobik mana yang Anda pilih, yang penting Anda mengerjakannya, paling tidak tiga kali dalam seminggu dan tiap kali berlangsung selama dua puluh menit. Berlari, berenang, dan bersepeda merupakan pilihan-pilihan yang baik.
Para dokter percaya bahwa diet untuk menjadi pria perkasa adalah diet rendah lemak, dengan hanya 20 persen kalori berasal dari lemak. Apabila Anda makan 2.500 kalori per hari, berarti batas asupan lemak Anda adalah sekitar 50 gram.
Untuk mulai dengan arah yang benar, bacalah label makanan yang Anda beli, cari produk-produk miskin lemak dan tanpa lemak, hindari gorengan, pindah ke susu skim, serta makan cukup buah-buahan dan sayuran segar setiap hari, ditambah kira-kira 75 gram ikan, daging ayam, atau daging merah tanpa lemak.
Ini insentif yang tidak buruk bagi seseorang yang betul-betul kegemukan. Akan tetapi, yang jelas, mempertahankan berat tubuh yang ideal akan mengurangi risiko tekanan darah tinggi dan diabetes karena keduanya dapat merusak kemampuan ereksi Anda.
Di samping merusak kemampuan seksual secara langsung, alkohol, bila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, dapat berpengaruh langsung terhadap testis, mengurangi produksi hormon pria testosteron, dan mengganggu keseimbangan hormon-hormon dan badan-bahan kimia otak yang diperlukan untuk menghasilkan ereksi, padahal keseimbangan itu rentan sekali. (Asep Chandra)
Sumber: www.tribunnews.com
![[imagetag]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjxBsPjRs-x5y7MIvoWsHMFa1UcJhXAcpbA-jE-Pf5-SgDXzt9QAgZwHK45JqNor0hWA8jLKKMlCSwNyhibfMenYKg2LNYKK3DlkWqwUPe8rEHJTZ0c_TvGQly5qrYbVPMcISko1XMcKqO/s400/Hasrat+Membara%252C+Tenaga+Kurang%252C+Ini+Solusinya.jpg)
Tak heran bila banyak kaum Adam menjadi cemas dan tertekan saat memasuki usia ini karena mereka berpeluang mengalami penurunan kemampuan seksual. Bahkan, mereka terancam divonis mengidap disfungsi ereksi atau impotensi oleh dokter.
Para dokter, yang dulu pernah memandang impotensi hampir secara eksklusif sebagai masalah psikologis, sekarang percaya bahwa sekurangnya tujuh di antara sepuluh kasus impotensi memiliki penyebab fisik, termasuk diabetes, gangguan kelenjar gondok, aterosklerosis, atau cedera pada penis.
Pengobatan, konsumsi alkohol, merokok, dan faktor-faktor psikologis seperti depresi, stres, dan kecemasan dalam pekerjaan juga dapat memperbesar risiko terjadinya disfungsi ereksi.
Yang menjadi inti dalam hal ini adalah bahwa apa pun yang menghentikan aliran darah ke penis Anda akan memperkecil peluang Anda untuk mendapatkan ereksi.
Akan tetapi, jika Anda merawat diri dengan baik, Anda dapat tetap siap siaga, tetap bergairah, dan tetap mampu berhubungan seks hingga usia lanjut. Menurut teori, tak ada alasan bahwa kemampuan seksual Anda akan berubah karena usia Anda bertambah. Ada satu hal yang sama di antara mereka: mereka merawat diri lebih baik daripada kebanyakan pria lain.
Jadi, rawatlah organ seksual Anda sebaik-baiknya dan ikutilah beberapa perubahan gaya hidup untuk menjaga agar kehidupan seksual Anda dapat terus berlangsung dengan baik.
1. Berhenti merokok
Merokok mempercepat pembentukan endapan-endapan dalam arteri jantung, maka tak sulit untuk percaya bahwa proses yang sama dapat terjadi pada pembuluh-pembuluh darah yang memasok darah ke penis.Sekarang merokok telah dipandang sebagai faktor utama dalam masalah ereksi, dan aksi pertamanya dimulai ketika usia Anda menginjak 40 tahun. Maka, jika Anda merokok, berhentilah sekarang juga!
2. Berlarilah ke tempat olahraga, jangan berjalan
Semakin bugar tubuh Anda, semakin sering Anda mampu berhubungan seksual, juga semakin baik, kata sebuah studi yang diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior.Dalam studi itu, yang diselenggarakan di University of California, San Diego, 78 pria sehat tetapi tidak aktif mulai berlatih aerobik tiga hingga lima hari dalam seminggu, masing-masing selama satu jam. Selama penelitian itu, tiap orang menulis buku harian tentang kegiatan seksual mereka.
Hasilnya menunjukkan bahwa kehidupan seks para pelaku aerobik itu sangat meningkat. Sementara itu, kehidupan seks mereka yang cuma berjalan santai hanya berubah sedikit.
Tidak peduli jenis aerobik mana yang Anda pilih, yang penting Anda mengerjakannya, paling tidak tiga kali dalam seminggu dan tiap kali berlangsung selama dua puluh menit. Berlari, berenang, dan bersepeda merupakan pilihan-pilihan yang baik.
3. Kurangi lemak
Dalam hal makanan, yang penting adalah membatasi asupan lemak. Sekali lagi logika mengatakan bahwa yang baik untuk arteri pemasok darah ke jantung juga akan baik untuk arteri pemasok darah ke penis.Para dokter percaya bahwa diet untuk menjadi pria perkasa adalah diet rendah lemak, dengan hanya 20 persen kalori berasal dari lemak. Apabila Anda makan 2.500 kalori per hari, berarti batas asupan lemak Anda adalah sekitar 50 gram.
Untuk mulai dengan arah yang benar, bacalah label makanan yang Anda beli, cari produk-produk miskin lemak dan tanpa lemak, hindari gorengan, pindah ke susu skim, serta makan cukup buah-buahan dan sayuran segar setiap hari, ditambah kira-kira 75 gram ikan, daging ayam, atau daging merah tanpa lemak.
4. Rampingkan pinggang Anda
Kelebihan timbangan dapat menyebabkan panjang penis Anda berkurang. Penelitian tidak resmi terhadap sejumlah pria kegemukan menunjukkan bahwa sampai batas tertentu, seorang pria yang kegemukan akan mendapatkan kembali 2,5 sentimeter penisnya untuk setiap 17 kilogram berat badan yang disingkirkannya.Ini insentif yang tidak buruk bagi seseorang yang betul-betul kegemukan. Akan tetapi, yang jelas, mempertahankan berat tubuh yang ideal akan mengurangi risiko tekanan darah tinggi dan diabetes karena keduanya dapat merusak kemampuan ereksi Anda.
5. Cermati obat yang Anda pakai
Ratusan obat dapat menyebabkan impotensi sebagai efek samping, termasuk diuretik, penurun darah tinggi lain, beberapa obat antidepresi, dan antipsikotik. Tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah obat yang Anda minum dapat membuat Anda bermasalah.6. Batasi alkohol
Alkohol adalah depresan yang berfungsi memperlambat refleks, termasuk dalam olah seksual.Di samping merusak kemampuan seksual secara langsung, alkohol, bila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, dapat berpengaruh langsung terhadap testis, mengurangi produksi hormon pria testosteron, dan mengganggu keseimbangan hormon-hormon dan badan-bahan kimia otak yang diperlukan untuk menghasilkan ereksi, padahal keseimbangan itu rentan sekali. (Asep Chandra)
Sumber: www.tribunnews.com
#bcfda5
Sabtu, 07 Desember 2013
Tidur Kurang dari 6 Jam Rawan Stroke
Jika Anda memiliki kebiasaan tidur yang buruk sebaiknya segera temukan solusi untuk mengatasi hal itu. Mengapa? Riset terbaru mengindikasikan, tidur kurang dari enam jam semalam secara signifikan dapat meningkatkan risiko gejala stroke. Mereka yang harus waspada terhadap risiko ini adalah kalangan pekerja usia 40-an hingga usia lanjut dan memiliki berat badan normal.
Dalam kajiannya, peneliti dari University Alabama di Birmingham melibatkan 5.666 partisipan berusia 45 tahun ke atas, yang dipantau perkembangannya selama tiga tahun. Para peserta tidak memiliki riwayat stroke, serangan iskemik transien, gejala stroke atau risiko tinggi terkait sleep apnea pada awal penelitian. Hasil studi menunjukkan, mereka yang punya kebiasaan tidur kurang dari enam jam setiap hari berisiko lebih tinggi mengidap stroke ketimbang peserta yang tidurnya cukup.
Bahkan risiko stroke di antara peserta yang tidur kurang dari enam jam tercatat lebih tinggi empat kali lipat dibanding mereka yang tidur antara tujuh dampai delapan jam. Risiko ini berlaku bagi mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal dan berisiko rendah memiliki gangguan tidur sleep apnea.
"Kami berspekulasi bahwa durasi tidur yang pendek adalah pemicu dari faktor-faktor risiko stroke lainnya. Ketika faktor risiko stroke lainya hadir, mereka kemungkinan menjadi lebih kuat dibandingkan durasi tidur semata ," kata pimpinan studi, Megan Ruiter, PhD.
Penelitian lebih lanjut, lanjut Ruiter, diperlukan untuk mendukung dan memberi argumen yang kuat bagi dokter dalam meningkatkan kesadaran akan buruknya kualitas tidur sebagai faktor risiko stroke, terutama di kalangan mereka yang tak memiliki risiko stroke.
"Tidur dan perilaku yang berhubungan tidur dapat dimodifikasi lewat terapi kognitif atau pemberian obat. Temuan ini mungkin menjadi dasar dalam penggunaan terapi tidur dalam mencegah perkembangan stroke," kata Ruiter yang mempublikasikan risetnya dalam pertemuan tahunan ke- 26 Associated Professional Sleep Societies di Boston.
Sumber : KOMPAS.COM
Dalam kajiannya, peneliti dari University Alabama di Birmingham melibatkan 5.666 partisipan berusia 45 tahun ke atas, yang dipantau perkembangannya selama tiga tahun. Para peserta tidak memiliki riwayat stroke, serangan iskemik transien, gejala stroke atau risiko tinggi terkait sleep apnea pada awal penelitian. Hasil studi menunjukkan, mereka yang punya kebiasaan tidur kurang dari enam jam setiap hari berisiko lebih tinggi mengidap stroke ketimbang peserta yang tidurnya cukup.
Bahkan risiko stroke di antara peserta yang tidur kurang dari enam jam tercatat lebih tinggi empat kali lipat dibanding mereka yang tidur antara tujuh dampai delapan jam. Risiko ini berlaku bagi mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal dan berisiko rendah memiliki gangguan tidur sleep apnea.
"Kami berspekulasi bahwa durasi tidur yang pendek adalah pemicu dari faktor-faktor risiko stroke lainnya. Ketika faktor risiko stroke lainya hadir, mereka kemungkinan menjadi lebih kuat dibandingkan durasi tidur semata ," kata pimpinan studi, Megan Ruiter, PhD.
Penelitian lebih lanjut, lanjut Ruiter, diperlukan untuk mendukung dan memberi argumen yang kuat bagi dokter dalam meningkatkan kesadaran akan buruknya kualitas tidur sebagai faktor risiko stroke, terutama di kalangan mereka yang tak memiliki risiko stroke.
"Tidur dan perilaku yang berhubungan tidur dapat dimodifikasi lewat terapi kognitif atau pemberian obat. Temuan ini mungkin menjadi dasar dalam penggunaan terapi tidur dalam mencegah perkembangan stroke," kata Ruiter yang mempublikasikan risetnya dalam pertemuan tahunan ke- 26 Associated Professional Sleep Societies di Boston.
Sumber : KOMPAS.COM
Langganan:
Postingan (Atom)